TOPNEWSP.COM, – Satu hari di sebuah kampung ada dua orang yang memasuki sebuah masjid. Yang satu seorang sufi yang shaleh, karena kesalehannya di anugerahi dengan perlindungan awan dari cahaya matahari dalam perjalanan dari rumahnya ke masjid begitupun sebaliknya.
Yang satu lagi seorang ahli maksiat yang hari itu tergerak hatinya menuju masjid. Sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam maksiat.
Baca juga:
Anak-anak Dilarang Ikut Ibadah Haji Mulai 2025, Ini Alasan Pemerintah Arab Saudi
Sampai suatu hari si ahli maksiat termenung dengan keadaan hidupnya apakah akan begini terus sampai hari tuanya? Dia berpikir panjang apakah hidupnya akan dijalani hanya bermaksiat dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lain? Apakah hidup ini hanya untuk maksiat saja? Dia pun bertekad dalam hati untuk meninggalkan semua kebiasaan buruknya. Dia ingin bertaubat kepada Allah SWT, kembali ke jalan yang benar.
Di dalam masjid, Sang Sufi (orang saleh) beribadah dengan khusyu’ kepada Allah SWT. Sementara di sudut masjid, ahli maksiat itu sedang menangis bermunajat kepada Allah, mengadukan dosa-dosanya yang menggunung. Dia menyesal karena sudah mengisi hidupnya hanya dengan bermaksiat.
Ketika selesai beribadah Sang Sufi menoleh ke arah ahli maksiat itu dan mengenalinya. Dia bergumam dalam hat, ahli maksiat ini yang sering dibicarakan orang-orang. Dosa-dosanya sudah terlalu banyak karena sepanjang hidupnya hanya dipenuhi dengan dosa. Hatinya sudah menghitam maka akan sulit baginya untuk bertaubat.
Baca juga:
Drag Race di Kotamobagu Sulut Berujung Duka, Mobil Melesat Tabrak Penonton 8 Orang Tewas
Ketika kedua orang itu keluar dari masjid. Tiba-tiba awan yang tadinya menaungi Sang Sufi berpindah menaungi si ahli maksiat. Kejadian ini membuat malaikat di langit menjadi heran dan bertanya-tanya, ada apa ini? Apa yang telah terjadi? Kenapa bisa kejadiannya terbalik begini?
Malaikat bertanya kepada Allah SWT tentang bagaimana ini bisa terjadi. Ketika masuk ke masjid orang saleh itu dilindungi awan dari rumahnya menuju masjid. Kenapa ketika keluar masjid awan itu berpindah melindungi orang yang penuh maksiat itu?
Allah SWT menjelaskan bahwa. Ketika orang saleh itu mendengar tangisan taubat ahli maksiat itu, terbetik di dalam hatinya kalau dosa-dosanya sudah terlalu banyak dan Allah tidak akan mengampuninya.
Orang saleh itu beribadah kepada-Ku dengan membanggakan ibadahnya. Dia merasa aku sudah ridho dengan semua ibadah-ibadahnya kepadaku. Setelah beribadah salat kepadaku terbetik di hatinya bahwa dosa-dosa si ahli maksiat ini tidak akan diampuni walau menangis darah sekalipun.
Baca juga:
Hari Terakhir Sekolah, Guru dan Murid Berbagi Berkah Ramadan
“Itulah alasan kenapa aku pindahkan perlindungan awan itu kepada hamba-Ku yang ingin bertaubat. Aku bahagia karena dia ingin kembali kepada-Ku dan Aku marah kepada ahli ibadah itu karena sudah membanggakan ibadahnya dan terbetik di hatinya kalau aku akan sulit menerima taubatnya orang yang ingin kembali kepadaku. Aku menerima taubat siapa saja yang ingin kembali kepadaku sebanyak apapun dosa-dosanya,”
Rasulullah SAW pernah bersabda yang maknanya begini: “Aku lebih senang mendengar rintihan orang yang bertaubat kepadaku dari pada gemuruh tasbih orang yang berdzikir”
Kisah ini memberi pelajaran bahwa setiap insan yang beribadah kepada Allah SWT harus hati-hati dengan rasa ujub dalam beribadah. Kita harus senantiasa menjaga hati di dalam beribadah dan juga di luar ibadah kita.
Dan juga jangan menghakimi orang lain dengan ibadahnya apalagi membanding-bandingkan ibadah kita dengannya, karena hanya Allah SWT yang bisa melihat hati setiap insan yang menyembah-Nya. (*)
Sumber:
bijaksini-bijaksana.blogspot.com



Tinggalkan Balasan