TOPNEWSP.COM, SINGAPURA – Indonesia resmi mempertegas posisinya sebagai pemain kunci dalam peta bioteknologi dunia.
Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar dalam kunjungan strategis ke Agency for Science, Technology and Research (A*STAR) Singapura pada Selasa (21/04/2026), membawa misi besar: menjadikan Indonesia pusat inovasi terapi medis masa depan.
Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan biasa. A*STAR secara khusus mengajak BPOM berkolaborasi mengembangkan teknologi medis mutakhir, mulai dari induced pluripotent stem cell (iPSC) hingga terapi sel CAR-T yang revolusioner.
Baca juga:
Resmi, BPOM Izinkan Vaksin Campak untuk Dewasa Demi Tekan KLB di 14 Provinsi
Kepercayaan internasional ini tidak datang tiba-tiba. Prof. Taruna menekankan bahwa status WHO Listed Authority (WLA) yang diraih BPOM pada akhir 2025 telah mengubah peta permainan.
“Status WLA adalah bukti sistem regulasi kita sejajar dengan negara maju. Ini bukan sekadar simbol, tapi mesin penggerak agar produk farmasi kita diakui global dan masyarakat bisa lebih cepat mengakses terapi inovatif,” ujar Taruna.
Untuk mendukung ambisi ini, BPOM mengusung konsep sinergi ABG (Academic-Business-Government). Strategi ini dirancang agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi sukses dihilirisasi oleh industri dengan pengawalan regulasi yang ketat namun efisien.
Baca juga:
Dengan pengawalan terhadap puluhan fasilitas sel punca di dalam negeri, Indonesia kini berada di jalur yang tepat menuju kemandirian farmasi berbasis bioteknologi.
Kolaborasi dengan A*STAR diharapkan mempercepat transfer teknologi dan membuka peluang uji klinis multinasional di tanah air.
Langkah ini membuktikan bahwa BPOM telah bertransformasi menjadi institusi strategis kelas dunia yang siap membawa layanan kesehatan Indonesia menjadi lebih maju, inklusif, dan kompetitif di kancah global.
Dalam kunjungannya ke Singapura, Prof Taruna Ikrar didampingi Staf Khusus BPOM RI dr Wachyudi Muchsin dan disambut oleh jajaran pimpinan Agency for Science, Technology and Research (A*STAR), lembaga riset terdepan yang menjadi episentrum pengembangan terapi sel dan gen di kawasan Asia. (*)



Tinggalkan Balasan